Home » Puisi Untuk Siswa Tercinta

Puisi Untuk Siswa Tercinta

Ada pelajaran yang hanya bisa diajarkan dengan rumus. Ada pula pelajaran yang hanya bisa disampaikan dengan hati.

Video ini direkam pada hari terakhir saya mengajar Matematika di kelas IX. Setelah kami selesai mereview materi terakhir, saya berkata kepada mereka,

“Hari ini adalah hari terakhir kita belajar bersama di kelas. Sebelum kita berpisah, Ibu ingin membacakan sebuah puisi untuk kalian.”

Mereka langsung bersorak kecil. Ketika saya menambahkan bahwa saya tidak pernah memiliki kebiasaan membacakan puisi setiap akhir tahun, tetapi angkatan ini begitu istimewa sehingga saya ingin melakukannya, terdengar celetukan-celetukan khas mereka.

“Wah… kita diistimewakan, Bu!”

Awalnya mereka mengira saya hanya bercanda. Masih ada tawa, masih ada bisik-bisik, dan tentu saja masih ada beberapa siswa yang tidak bisa diam. Tetapi Ezra, siswa yang paling aktif, langsung membuka kameranya dan serta-merta mulai merekam bak wartawan.

Perlahan suasana berubah. Kelas yang biasanya ramai berangsur menjadi tenang. Mata mereka mulai mengikuti setiap kalimat yang saya ucapkan.

Ketika saya menyebut Samuel sebagai anak yang hampir tidak pernah diam di lapangan basket, ia langsung berdiri sambil menepuk dadanya dengan bangga, membuat seisi kelas bergumam. Saat saya menyebut Adel, murid yang menemani saya belajar robotika—karena sebenarnya kami sama-sama sedang belajar waktu itu—ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

Di tengah pembacaan, sesekali tawa kecil kembali muncul. Saya bahkan sempat mengulang satu bait karena salah melihat urutan. Boaz spontan berseru, “Sudah dibaca, Bu.” Semua tertawa kecil, lalu kembali hening.

Dan sejak saat itu, hampir tidak ada lagi suara.

Beberapa anak terdiam memandang ke depan. Ada yang tampak tertegun. Ada yang menundukkan kepala seperti sedih menyadari sebentar lagi kami berpisah. Ada yang menutup wajahnya, berusaha menyembunyikan air mata.

Aku menyadari ada sesuatu di setiap hati para siswa. Aku sendiri berusaha menenangkan hatiku yang bergemuruh, agar mampu membaca puisi ini hingga selesai tanpa ada drama air mata.

Ternyata, setiap anak ingin dilihat. Ingin dikenang. Ingin tahu bahwa keberadaannya sungguh berarti bagi gurunya.

Ketika puisi itu selesai, hatiku lega. Tepuk tangan panjang memenuhi ruangan. Bukan karena puisinya sempurna, melainkan karena mereka merasa setiap bait benar-benar bercerita tentang diri mereka.

Ezra mengakhiri rekamannya dengan menyorot langit-langit kelas yang menjadi saksi suasana hangat dan deru hati yang berdegup pada siang itu.

Video sederhana ini saya simpan di website bukan untuk menunjukkan bagaimana saya membacakan puisi, melainkan sebagai pengingat bahwa di balik setiap pelajaran Matematika, selalu ada hubungan yang jauh lebih penting daripada angka.

Semoga, ketika mereka menonton kembali video ini bertahun-tahun nanti, mereka masih ingat bahwa pernah ada seorang guru yang melihat mereka bukan hanya sebagai siswa di dalam kelas, tetapi sebagai pribadi-pribadi yang sedang bertumbuh.

**********************************************************************************************************************

“Untuk setiap anak yang pernah singgah di ruang kelas saya, terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Semoga ilmu yang dipelajari tidak berhenti di buku, tetapi bertumbuh menjadi hikmat dalam setiap langkah kehidupan kalian. Tuhan menyertai perjalanan kalian.”

Loading

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »
Scroll to Top