Ketika Tuhan Mengubah Agendaku

Sudah dua puluh tahun kami berjalan bersama dalam sebuah kelompok kecil di gereja. Selama itu pula kami belajar menjadi saudara seiman. Kami tidak selalu bertemu setiap hari Minggu karena gereja kami memiliki tiga kali jadwal ibadah, dan kami sering memilih jam yang berbeda. Namun, setiap dua minggu sekali kami selalu meluangkan waktu untuk berkumpul di rumah salah satu anggota secara bergantian.

Di sanalah kami memuji Tuhan, belajar Firman-Nya, berbagi pergumulan, saling menguatkan, dan berdoa bersama. Rutinitas itu terus berlangsung selama bertahun-tahun hingga tanpa terasa dua puluh tahun telah berlalu.

Yang menarik, selama dua puluh tahun itu kami tidak pernah sekali pun berlibur bersama.

Entah mengapa, bagiku liburan bukanlah sesuatu yang terlalu penting. Bukankah tujuan utama komsel adalah bertumbuh secara rohani? Bukankah waktu yang kami miliki lebih baik dipakai untuk belajar Firman Tuhan?

Namun, suatu ketika muncul usulan yang sederhana.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan bersama?”

Akhirnya kami sepakat. Mulailah berdiskusi menentukan tempat wisata, memilih homestay, dan menyusun jadwal perjalanan. Salah seorang anggota dengan penuh semangat mengurus pemesanannya.

Sementara itu, pikiranku mulai dipenuhi berbagai ide.

Karena kami akan memiliki waktu yang lebih panjang bersama, aku ingin memanfaatkannya untuk melakukan sesuatu yang selama ini belum pernah kami lakukan: membantu setiap anggota mengenali karunia Roh yang Tuhan berikan kepada mereka.

Aku menyusun Google Form berisi berbagai pertanyaan untuk mengidentifikasi karunia Roh. Setelah itu aku membuat lembar kerja Excel lengkap dengan rumus-rumus agar hasilnya dapat diolah secara otomatis. Bahkan aku sudah menyiapkan sebuah infografis berbentuk tubuh manusia sebagai gambaran gereja. Rencanaku, nama setiap anggota akan ditempelkan pada bagian tubuh yang sesuai dengan karunia Roh yang paling menonjol dalam dirinya. Aku membayangkan malam itu akan menjadi malam yang penuh peneguhan, ketika setiap orang menyadari bahwa Tuhan memberikan karunia yang berbeda-beda untuk saling melengkapi.

Dua hari sebelum keberangkatan, tautan Google Form kubagikan.

Aku menunggu.

Tidak ada yang mengisi.

Sampai hari keberangkatan pun formulir itu masih kosong.

Setelah kutanya satu per satu, alasannya ternyata sederhana. Ada yang belum terbiasa menggunakan Google Form, ada yang sibuk sehingga belum sempat membukanya, bahkan ada yang baru mengetahui bahwa tautan itu harus diisi.

Aku sempat merasa sedikit kecewa.

Akhirnya, di sela-sela perjalanan aku membantu mereka mengisi formulir tersebut.

Hari itu kami menikmati keindahan Pantai Somandeng dan Pantai Drini, lalu melanjutkan perjalanan menuju Piqnic Land. Ternyata berjalan cukup jauh membuat kami yang rata-rata sudah berusia sekitar lima puluh lima tahun mulai kelelahan. Kami lebih sering berhenti untuk beristirahat daripada berfoto.

Di situlah aku mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tidak masuk dalam agendaku.

Kami yang lebih muda tanpa diminta bergantian menggandeng para ibu yang mulai kesulitan berjalan. Ada yang menggunakan alat bantu jalan berbentuk huruf U. Tidak ada yang merasa terbebani. Semua melakukannya dengan wajar, seolah-olah itulah hal yang memang seharusnya dilakukan oleh sebuah keluarga.

Sesampainya di homestay, para ibu segera sibuk di dapur. Mereka memasak, menyiapkan makan malam, lalu memanggil kami untuk menikmati hidangan bersama. Tidak ada katering. Tidak ada pelayan. Yang ada hanyalah tangan-tangan yang saling melayani.

Malam harinya suasana berubah semakin hangat.

Seseorang mulai menyanyikan lagu-lagu lama.

Yang lain ikut bernyanyi.

Lalu disambung lagu berikutnya.

Tak lama kemudian ruang keluarga berubah menjadi ruang karaoke sederhana yang dipenuhi tawa. Wajah-wajah yang biasanya terlihat serius ketika mengikuti pendalaman Alkitab malam itu tampak begitu lepas. Mereka mengenang masa muda, saling menggoda, dan tertawa tanpa beban.

Aku memandangi mereka.

Lalu diam-diam menutup map yang berisi infografis karunia Roh.

Malam itu bukan waktunya presentasi.

Bukan waktunya diskusi.

Bukan waktunya membahas hasil analisis Excel yang telah kusiapkan berhari-hari.

Malam itu Tuhan sepertinya memiliki agenda yang berbeda.

Aku tetap mengolah hasil Google Form dan mengirimkan hasil identifikasi karunia Roh kepada masing-masing anggota secara pribadi. Tetapi sesi saling meneguhkan yang telah lama kurancang akhirnya tidak pernah terlaksana.

Anehnya, justru saat itulah aku menyadari sesuatu.

Selama ini aku berpikir bahwa membangun persekutuan harus melalui materi yang baik, diskusi yang mendalam, dan kegiatan yang terencana.

Padahal malam itu Tuhan sedang mengajariku bahwa kasih juga bertumbuh melalui tawa, perjalanan, kelelahan, masakan sederhana, tangan yang menggandeng langkah yang mulai lemah, dan waktu yang dihabiskan bersama.

Aku datang membawa agenda.

Tuhan menghadirkan keluarga.

Aku ingin mengajarkan tentang karunia Roh.

Tuhan justru memperlihatkan buah Roh.

Kasih, kesabaran, kebaikan, perhatian, dan sukacita hadir tanpa perlu dipresentasikan.

Ketika perjalanan selesai dan kami kembali pulang, aku menyadari bahwa liburan pertama komsel kami memang tidak berjalan sesuai rencanaku.

Namun, mungkin justru itulah rencana Tuhan.

Sebab tidak semua pelajaran rohani lahir dari ruang ibadah. Ada pelajaran yang hanya bisa dipahami ketika kita berjalan bersama, saling menopang, tertawa bersama, dan menikmati kehadiran satu sama lain.

Terkadang Tuhan mengubah agenda kita bukan karena rencana kita buruk, melainkan karena Ia ingin memberikan sesuatu yang jauh lebih indah daripada yang sudah kita siapkan.

Loading

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »
Scroll to Top