Siang itu saya sedang sibuk menyusun soal untuk siswa. Suasana ruang guru cukup tenang. Semua guru sedang serius menatap laptop masing-masing. Sesekali terdengar suara siswa tertawa dengan senda guraunya. Mereka tampak menikmati sekali waktu istirahat. Sementara saya fokus membuat grafik untuk asesmen esok hari.
Tiba-tiba seorang siswa menghampiri saya dengan wajah cemas.
“Bu, boleh keluar sebentar? Saya mau bicara sesuatu.”
Nada suara Kezia membuat saya segera menghentikan pekerjaan. Di luar kelas ternyata sudah menunggu beberapa temannya. Wajah mereka sama-sama menunjukkan rasa khawatir. Sekilas hati saya bertanya-tanya dan menduga mereka meminta bimbingan belajar seperti biasanya. Karena materi kali ini terbilang cukup sulit.
“Ada apa?” tanya saya.
Siswa itu menunduk sejenak sebelum menjawab.
“Bu, HP saya baru saja kecemplung ke ember di kamar mandi.”
Saya hampir tersenyum mendengarnya. Dalam hati saya berpikir, mengapa urusan HP yang tercebur air dibawa ke guru matematika?
Namun saya tahu, saat seseorang sedang panik, yang ia butuhkan bukanlah seorang ahli, melainkan seseorang yang bisa menenangkan.
Saya sendiri belum pernah mengalami kejadian seperti itu. Karena itu, saya mulai bertanya kepada beberapa guru lain dan mencari informasi melalui ChatGPT. Dari berbagai sumber, saya memperoleh beberapa langkah yang perlu dilakukan: mematikan HP, mengeluarkan kartu memori dan SIM, tidak mengisi daya, serta membiarkannya mengering terlebih dahulu.
Saya menjelaskan semuanya kepada siswa itu dengan perlahan.
“Yang penting sekarang jangan panik. HP-mu masih punya peluang untuk selamat. Kita lakukan langkah yang benar dulu.”
Ia mengangguk.

Teman-temannya yang sejak tadi ikut mengelilingi kami juga tampak sedikit lega. Mereka membantu memastikan HP dimatikan dan kartu memorinya dilepas. Ada yang mengusulkan untuk dikeringkan dengan hair dryer, pakai kipas angin, dikeringkan di bawah pohon, atau direndam kedalam beras. Saya tersenyum melihat kepedulian teman-temannya terhadap Kezia.
Saya mencoba menenangkannya: “Hp kamu akan aman-aman saja. Asal jangan sampai terkena uap panas dari hair dryer atau sinar matahari, ya.”
Kezia mengangguk dan wajahnya mulai tenang. “Kalau ada, nanti dimasukkan ke kotak yang ada silica gelnya ya… ”
Kezia setengah berteriak, “Oh iya, saya punya, Bu.” Tapi tiba-tiba wajahnya kembali kecewa ketika disarankan selama 2 hari hp-nya dalam keadaan off dulu.
“Yang penting kan hp-nya nggak rusak. Kez….. Sabar ya,” hibur Palupi.
Beberapa menit kemudian, suasana yang tadinya penuh kecemasan mulai berubah. Siswa itu sudah tidak terlihat panik lagi.
“Jadi masih bisa hidup lagi, Bu?” tanyanya penuh harap.
“Sangat mungkin,” jawab saya. “Tapi kita harus sabar dan mengikuti langkah-langkahnya.”
Ia tersenyum.
Tidak lama kemudian, Kezia, Tirza, Palupi, dan Michelle kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran seperti biasa. Saya pun kembali menyusun soal yang sempat tertunda.
Peristiwa itu mengingatkan saya bahwa menjadi guru bukan hanya tentang mengajarkan rumus, angka, atau teori. Kadang-kadang murid datang membawa masalah yang sama sekali tidak ada di buku pelajaran. Mereka datang karena percaya bahwa guru dapat membantu menemukan jalan keluar.
Hari itu saya tidak memperbaiki sebuah HP. Saya hanya membantu seorang siswa agar tidak tenggelam dalam kepanikannya.
Dan mungkin, itulah pelajaran yang paling penting.
Karena setiap masalah, sekecil apa pun, akan lebih mudah diselesaikan ketika kita tenang, berpikir jernih, dan saling membantu.
![]()


