Ketika Perubahan Itu Sampai ke Kelas

Di tengah perhatian publik terhadap proses hukum yang sedang dijalani Nadiem Makarim, ada satu hal yang jarang mendapat ruang: bagaimana kebijakan pendidikan benar-benar dirasakan di ruang kelas.

Saya bukan pengamat kebijakan, juga bukan bagian dari proses hukum tersebut. Saya adalah seorang guru matematika yang telah mengajar selama kurang lebih dua dekade. Namun justru dari posisi itulah, saya menyaksikan perubahan yang tidak kecil.

Selama bertahun-tahun, saya berupaya membuat pembelajaran tetap hidup. Siswa tidak hanya saya ajak mendengar, tetapi juga melakukan. Kami menggunakan alat sederhana seperti gunting, busur, dan penggaris. Sesekali kami belajar di luar kelas, mengamati langsung dan mencoba memahami konsep melalui pengalaman.

Namun, semua itu masih berada dalam batas yang saya kenal saat itu.

Perubahan mulai terasa ketika pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran semakin didorong. Akses terhadap berbagai sumber belajar terbuka lebih luas. Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak sebagai konsekuensi perkembangan zaman. Namun bagi saya, ini menjadi perluasan dari apa yang selama ini saya lakukan.

Saya mulai mengenal berbagai platform pembelajaran digital. Saya mengakses praktik pendidikan dari berbagai negara. Saya mencoba menghadirkan visualisasi, animasi, dan interaksi yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Proses ini tidak berlangsung tanpa hambatan. Adaptasi membutuhkan waktu, dan tidak semua percobaan berjalan sesuai harapan. Bahkan pada awalnya, saya kerap merasa tertinggal oleh laju perubahan.

Namun perlahan, perubahan itu menjadi nyata. Siswa lebih terlibat dalam pembelajaran. Diskusi di kelas menjadi lebih hidup. Dan yang tidak kalah penting, saya sendiri kembali menemukan semangat dalam mengajar.

Di luar ruang kelas, saya juga melihat upaya digitalisasi dalam pengelolaan pendidikan, termasuk dalam sistem pengadaan. Transparansi yang lebih terbuka memberi harapan akan tata kelola yang lebih akuntabel.

Tentu, tidak semua guru merasakan hal yang sama. Bagi sebagian rekan, tuntutan untuk beradaptasi justru menjadi beban tambahan. Belajar hal baru di tengah rutinitas yang padat bukan perkara mudah.

Namun di tengah dinamika tersebut, saya melihat adanya dorongan untuk membawa pendidikan lebih relevan dengan kebutuhan zaman.

Karena itu, ketika mengikuti perkembangan proses hukum yang sedang berlangsung, saya merasakan kegelisahan sebagai seorang guru.

Saya tidak berada dalam posisi untuk menilai benar atau salah. Proses hukum harus berjalan secara objektif dan transparan.

Namun saya berharap, dalam percakapan publik, dampak nyata kebijakan terhadap praktik pendidikan di lapangan juga mendapat tempat.

Pendidikan pada akhirnya bukan hanya soal kebijakan, tetapi tentang manusia—tentang guru yang terus belajar dan siswa yang mengalami cara belajar yang semakin beragam.

Perubahan yang terjadi mungkin belum sempurna. Namun bagi saya, perubahan itu nyata.

Dan di ruang kelas kecil saya, perubahan itu telah membuat pembelajaran menjadi lebih hidup.

**********************************************************************************************************************

Loading

Translate »
Scroll to Top