20 September 2026
Hari ini aku masih tinggal di rumah orang tuaku.
Aku belum mempunyai rumah sendiri.
Kalau dihitung-hitung, mungkin orang akan berkata bahwa impianku terlalu besar. Gajiku bahkan belum mencapai tiga juta rupiah. Dengan penghasilan seperti itu, bagaimana mungkin aku bisa membangun rumah dengan lima kamar, ruang kerja, taman di tengah rumah, dan garasi yang cukup untuk dua mobil?
Kalau hanya melihat keadaan hari ini, memang rasanya mustahil.
Tetapi hari ini aku kembali membaca satu ayat yang sudah sangat kukenal:
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
— Ibrani 11:1
Aku terdiam cukup lama setelah membacanya.
Lalu aku membayangkan rumah itu lagi.
Rumah yang selama ini hanya ada dalam pikiranku.
Rumah dengan lima kamar.
Ada sebuah ruang kerja tempat aku bisa menulis, membuat materi pembelajaran, mengembangkan website, dan mungkin tetap mengajar meskipun nanti sudah tidak lagi berada di sekolah setiap hari.
Di tengah rumah ada taman kecil yang terbuka ke langit.

Aku membayangkan cahaya matahari masuk ke sana pada pagi hari. Ada tanaman hijau, bunga-bunga yang kusukai, mungkin beberapa kursi kecil untuk duduk sambil menikmati udara.
Aku juga membayangkan garasi untuk dua mobil.
Bukan semata-mata karena aku ingin memiliki dua mobil.
Aku ingin ada satu tempat yang cukup ketika ada tamu datang.
Aku ingin tamu-tamuku tidak perlu bingung mencari tempat parkir.
Mobil mereka bisa masuk dan terparkir dengan aman.
Aku pernah meminta ChatGPT membuat sketsa rumah itu untukku.
Saat itu rumah tersebut hanyalah sebuah gambar di layar.
Sebuah gambaran tentang sesuatu yang belum kumiliki.
Tetapi anehnya, ketika melihat sketsa itu, hatiku berkata,
“Suatu hari nanti…”
Bukan, “Andai saja…” Melainkan,
“Suatu hari nanti.”
Aku tidak tahu bagaimana caranya.
Aku juga tidak tahu kapan.
Aku tidak tahu dari mana uangnya.
Kalau menggunakan perhitunganku hari ini, rumah itu memang terasa jauh sekali.
Tetapi mungkin iman memang bukan tentang mengetahui seluruh jalan sebelum melangkah.
Iman adalah percaya kepada Tuhan ketika kita belum melihat jalannya.
Hari ini aku belum punya rumah itu.
Hari ini aku masih tinggal bersama orang tuaku.
Hari ini penghasilanku masih jauh dari cukup untuk membangun rumah seperti yang kubayangkan.
Tetapi hari ini aku juga memiliki sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan angka:
harapan.

Dan aku percaya Tuhan tidak pernah dibatasi oleh keadaan yang sedang kulihat sekarang.
Mungkin jalannya akan berbeda dari yang kubayangkan.
Mungkin waktunya akan berbeda.
Mungkin Tuhan akan membukakan pintu melalui cara yang sama sekali tidak pernah kupikirkan.
Aku tidak tahu.
Tetapi aku memilih untuk percaya.
Aku ingin suatu hari nanti, ketika aku sudah tua dan duduk di teras rumahku sendiri, aku mengingat pagi ini.
Aku ingin membuka kembali tulisan ini.
Aku ingin tersenyum melihat betapa kecilnya keadaan yang sedang kuhadapi dibandingkan dengan apa yang Tuhan kerjakan sepanjang perjalanan hidupku.
Aku ingin berkata kepada diriku sendiri:
“Ternyata Tuhan memang sedang bekerja ketika aku belum melihat apa-apa.”
Mungkin saat itu taman di tengah rumah sudah tumbuh dengan indah.
Mungkin bunga-bunga sudah memenuhi sudut-sudutnya.
Mungkin ruang kerja itu sudah dipenuhi buku, laptop, dan berbagai hasil karya yang pernah kubuat.
Mungkin ada lima kamar yang dulu hanya berani kubayangkan.
Mungkin di garasi sudah terparkir dua mobil.
Dan mungkin suatu sore, ketika seorang tamu datang, aku akan melihat mobilnya masuk ke garasi dan terparkir dengan aman.
Aku akan tersenyum.
Karena aku tahu: aku pernah membayangkan momen itu ketika semuanya masih terlihat mustahil.
Dan aku akan mengingat tanggal ini.
20 September 2026.
Hari ketika rumah itu belum ada.
Hari ketika aku masih tinggal bersama orang tua.

Hari ketika gajiku belum mencapai tiga juta rupiah.
Hari ketika secara manusia aku belum melihat bagaimana impian itu bisa terwujud.
Tetapi juga…
hari ketika aku memilih untuk percaya.
Aku tidak ingin mengingat rumah itu hanya sebagai sebuah rumah.
Aku ingin mengingatnya sebagai kesaksian.
Kesaksian bahwa Tuhan dapat membawa seseorang berjalan melalui jalan yang tidak dapat ia mengerti dari awal.
Bahwa doa-doa yang pernah diucapkan dalam kesunyian tidak pernah menjadi sia-sia.
Bahwa harapan yang ditanam dengan iman dapat terus hidup bahkan ketika keadaan belum berubah.
Dan bahwa aku pernah menulis semua ini sebelum melihat kenyataannya.
Karena itu, ketika suatu hari nanti aku benar-benar berada di rumah itu, aku ingin berhenti sejenak.
Melihat taman di tengah rumah.
Melihat ruang kerjaku.
Melihat lima kamar.
Melihat dua mobil yang terparkir di garasi.
Lalu aku ingin berkata pelan:
“Tuhan, Engkau tahu. Aku pernah membayangkan semuanya ketika aku bahkan belum memiliki rumah sendiri.”
Dan mungkin aku akan membuka kembali tulisan ini.
Kemudian aku akan tersenyum.
Bukan karena aku hebat.
Bukan karena aku berhasil mewujudkannya dengan kekuatanku sendiri.
Tetapi karena aku tahu…
aku tidak berjalan sendirian.
Untuk diriku yang menulis ini hari ini
Jangan malu dengan keadaanmu sekarang.
Jangan merasa mimpimu terlalu besar hanya karena keadaanmu hari ini terlihat kecil.
Teruslah bekerja.
Teruslah berkarya.
Teruslah berdoa.
Teruslah belajar.
Dan yang paling penting:
tetap percaya kepada Tuhan.
Kita memang belum tahu bagaimana ceritanya akan terjadi.
Tetapi kita belum sampai pada halaman terakhir.
Dan mungkin…
halaman-halaman terbaiknya bahkan belum ditulis.
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Ibrani 11:1
![]()


