Home » Jejak Rasa Nusantara

Jejak Rasa Nusantara

Pada awal tahun pelajaran, tiga orang guru duduk bersama menyusun sebuah program kokurikuler.

Mereka ingin membuat kegiatan yang menarik dan bermakna bagi siswa. Setelah berdiskusi, muncullah sebuah gagasan: mengenalkan kuliner Nusantara melalui kegiatan memasak.

Setiap dua minggu, siswa akan mengenal makanan dari berbagai daerah. Dimulai dari luar Jawa, kemudian menjelajahi berbagai wilayah di Pulau Jawa, hingga akhirnya mengenal kuliner khas Semarang.

Gagasannya terasa menyenangkan.

Siswa tidak hanya belajar dari buku. Mereka mencari informasi, berdiskusi dalam kelompok, menentukan makanan yang akan dibuat, membawa bahan, menyiapkan alat, memasak, lalu melaporkan hasilnya.

Namun setelah kegiatan berjalan, muncul sisi lain yang sebelumnya belum terlalu terlihat.

Tidak semua siswa memiliki kemudahan yang sama untuk membawa bahan makanan dan peralatan. Ada yang harus membawa kompor, ada yang membawa bahan cukup banyak, dan ada keluarga yang harus mengeluarkan biaya tambahan.

Di sekolah, guru juga mulai melihat bahwa waktu dan tenaga yang dibutuhkan cukup besar.

Kemudian datanglah masukan dari orang tua.

Bukan karena mereka tidak menyukai kegiatan kuliner. Mereka hanya merasa bahwa kegiatan yang terlalu sering membuat anak membawa banyak bahan dan peralatan cukup merepotkan.

Para guru pun mulai berpikir.

Bukankah yang sebenarnya ingin dikenalkan adalah kekayaan budaya Nusantara melalui kulinernya?

Apakah tujuan kegiatan ini memang harus selalu dicapai melalui kegiatan memasak?

Seorang guru dari luar tim kemudian memberikan sebuah gagasan sederhana.

“Bagaimana kalau tidak semua kegiatan harus memasak? Kita bisa mengenalkan jamu, membuat minuman tradisional, membuat poster kuliner, melakukan wawancara dengan keluarga, membuat video, atau membawa contoh makanan yang sudah jadi. Kalau ada kesempatan memasak, tetap boleh dilakukan, tetapi tidak harus setiap dua minggu.”

Gagasan itu membuka sudut pandang baru.

Akhirnya, mereka sepakat memperluas konsep kegiatan menjadi “Jejak Rasa Nusantara.”

Setiap dua minggu siswa tetap diajak menjelajahi satu daerah melalui makanannya. Mereka mencari tahu asal-usul makanan, menemukan cerita di balik sebuah resep, mengenal bahan-bahan khas suatu daerah, dan memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Tetapi ada satu hal lain yang juga dapat dipelajari dari kegiatan tersebut: matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah guru matematika mengambil bagian.

Siswa tidak hanya mencatat bahan yang diperlukan. Mereka mengubah informasi tersebut menjadi data yang dapat diolah menggunakan Microsoft Excel.

Misalnya, setelah mendapatkan resep untuk empat porsi nasi goreng Jawa, siswa membuat tabel bahan, jumlah, harga satuan, dan total biaya.

Mereka kemudian menggunakan rumus Excel untuk menghitung:

  • total biaya seluruh bahan,
  • biaya untuk setiap porsi,
  • perkiraan pendapatan jika makanan dijual dengan harga tertentu,
  • keuntungan yang diperoleh,
  • serta perubahan jumlah bahan apabila resep diperbanyak.

Jika resep semula untuk empat porsi dan harus dibuat menjadi enam belas porsi, siswa tidak sekadar mengatakan, “bahannya harus lebih banyak.”

Mereka menghitungnya.

Nasi 600 gram menjadi 2.400 gram. Dua butir telur menjadi delapan butir. Empat siung bawang merah menjadi enam belas siung.

Dari sini siswa melihat bahwa perbandingan dan perkalian bukan hanya angka di buku matematika.

Angka-angka itu dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Mereka juga dapat mencoba berbagai harga jual dan melihat bagaimana perubahan harga memengaruhi pendapatan dan keuntungan. Dengan Excel, siswa belajar memasukkan data, menggunakan rumus, melakukan perhitungan otomatis, membaca tabel, dan menarik kesimpulan dari data yang mereka miliki.

Dengan demikian, kegiatan kuliner menjadi pintu masuk untuk belajar literasi data, aritmetika, perbandingan, persentase, dan penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, aspek pengemasan dan penjualan tidak perlu menjadi fokus kegiatan ini. Materi tersebut sudah dipelajari dalam kegiatan kewirausahaan pada kokurikuler angkatan di atasnya.

Setiap jenjang dapat memiliki fokus yang berbeda.

Pada kegiatan ini, siswa lebih banyak belajar mengenal budaya, mengolah informasi, bekerja sama, mengolah data, dan menerapkan matematika.

Dengan demikian, kegiatan tidak menjadi pengulangan program kewirausahaan, tetapi justru dapat saling melengkapi.

Sesekali siswa memasak.

Sesekali mereka membuat jamu.

Sesekali mereka membuat poster, video, atau melakukan wawancara.

Dan pada kesempatan lain, mereka duduk di depan laptop, membuka Excel, lalu bertanya:

“Kalau porsinya menjadi empat kali lipat, berapa bahan yang kami perlukan?”

“Kalau harga jualnya Rp10.000 per porsi, berapa pendapatannya?”

“Berapa keuntungan yang diperoleh?”

Di situlah mereka menemukan sesuatu yang menarik.

Ternyata matematika tidak selalu hadir dalam bentuk soal di buku.

Matematika dapat hadir di dapur, di pasar, di meja makan, bahkan di layar komputer.

Sebab untuk mengenal sebuah makanan, kita tidak selalu harus memasaknya.

Kita dapat mempelajari ceritanya, budayanya, resepnya, datanya, dan matematika di baliknya.

Dan dari sana siswa belajar bahwa kuliner bukan hanya tentang rasa.

Kuliner adalah tentang budaya, sejarah, keluarga, kreativitas, kerja sama, literasi, dan kehidupan nyata.

Program yang baik bukanlah program yang memiliki kegiatan paling banyak.

Program yang baik adalah program yang tujuannya tercapai dengan pengalaman belajar yang bermakna, beragam, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Maka perjalanan pun dilanjutkan.

Bukan dengan mengurangi semangat belajar.

Tetapi dengan memperluas cara belajar.

Dari dapur menuju budaya.
Dari resep menuju data.
Dari data menuju matematika.
Dari rasa menuju makna.

Itulah perjalanan Jejak Rasa Nusantara.

Loading

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »
Scroll to Top