Home » Pagi hari ketika Pancasila dan Iman Berbicara

Pagi hari ketika Pancasila dan Iman Berbicara

Pagi itu akhirnya tiba, setelah semalam aku memikirkan bagaimana menyusun amanat upacara. Pasalnya, tema yang diberikan semula adalah tentang religiusitas, tetapi karena jadwal sebagai pembina upacara digeser ke tanggal 1 Oktober tepat  hari Kesaktian Pancasila, maka aku mencoba meramunya agar keduanya berkesinambungan.

Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepada anak-anak pada hari istimewa itu.

Aku tidak ingin Pancasila hanya berhenti sebagai lima sila yang mereka hafalkan sejak sekolah dasar. Aku juga tidak ingin religiusitas hanya dipahami sebagai kegiatan berdoa, mengikuti ibadah, atau menjalankan kegiatan keagamaan.

Aku ingin mereka melihat bahwa keduanya dapat berjalan bersama dalam membentuk karakter.

Pagi itu suasana upacara sedikit berbeda dari biasanya. Tidak hanya guru yang hadir. Bendahara, pegawai administrasi, dan bagian marketing juga ikut bergabung. Biasanya seluruh pegawai mengikuti upacara di SMA, tetapi kali ini mereka dibagi, sebagian mengikuti upacara di SMP dan sebagian di SMA.

Anak-anak pun menjalankan tugas mereka dengan sangat baik.

Vale, ketua OSIS, berdiri sebagai pemimpin upacara. Melihatnya berdiri dengan penuh tanggung jawab di depan teman-temannya, aku kembali teringat bahwa anak-anak yang sekarang berdiri di hadapan kami bukanlah anak-anak kecil selamanya.

Suatu hari nanti, merekalah yang akan mengambil keputusan.

Merekalah yang akan bekerja, memimpin, membangun keluarga, menjalankan profesi, dan mengambil bagian dalam kehidupan bangsa ini.

Dan sebelum sampai ke sana, mereka harus belajar menjadi manusia yang baik.

Ketika tiba waktunya untuk menyampaikan amanat, aku mengawali dengan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari semangat kami.

“Krista Mitra, selamat pagi!”

Anak-anak menjawab dengan suara lantang,

“Pagi, pagi, Krista Mitra semangat pagi!”

Kemudian,

“Pagi, pagi, inovasi kita bisa!”

Seketika suasana menjadi hidup.

Aku tersenyum.

Rasa tegang yang sejak tadi mungkin masih tersisa, perlahan menghilang.

Aku mulai berbicara tentang Pancasila.

Tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Tentang kemanusiaan. Persatuan. Kerakyatan. Keadilan sosial.

Tetapi pagi itu aku tidak ingin hanya menjelaskan arti setiap sila.

Aku ingin membawa mereka sedikit lebih jauh.

Aku mengajak mereka melihat bahwa nilai-nilai Pancasila sebenarnya dapat ditemukan dalam kehidupan iman kita sehari-hari.

Ketika kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kita sedang belajar menghidupi sila pertama.

Ketika kita mengasihi sesama manusia, kita belajar memperlakukan orang lain dengan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Ketika kita belajar hidup bersama, menghargai perbedaan, tidak memaksakan kehendak, mau mendengarkan, dan memperjuangkan kebaikan bersama, kita sedang belajar menghidupi sila-sila berikutnya.

Pancasila bukan hanya untuk diucapkan ketika upacara.

Iman juga bukan hanya untuk diucapkan ketika berdoa.

Keduanya harus terlihat dalam kehidupan.

Aku kemudian memberikan contoh yang sangat sederhana.

Kadang-kadang, ketika seseorang sedang berdoa dengan sungguh-sungguh, ada teman di sebelahnya yang justru tidak ikut berdoa. Mungkin berbicara, bercanda, atau melakukan hal lain.

Aku mengajak mereka berpikir.

“Kalau kita belum bisa berdoa dengan sungguh-sungguh, setidaknya hormatilah teman yang sedang berdoa.”

Bukankah menghormati orang lain juga merupakan bagian dari kasih?

Aku kemudian membawa mereka pada contoh yang lain.

Ulangan.

Saat guru mengawasi, mungkin mudah untuk tidak menyontek. Tetapi bagaimana kalau guru tidak melihat?

Di situlah karakter diuji.

Kejujuran bukan hanya ketika seseorang melihat.

Kejujuran adalah ketika kita tetap memilih yang benar meskipun kita memiliki kesempatan untuk melakukan yang salah.

Aku ingin mereka memahami bahwa karakter dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil yang mungkin tidak diketahui siapa pun.

Tidak menyontek.

Menghormati teman yang sedang berdoa.

Tidak mengejek.

Mau mendengarkan.

Berani mengakui kesalahan.

Mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh.

Menolong ketika ada yang membutuhkan.

Hal-hal sederhana itu mungkin tampak kecil.

Tetapi dari hal-hal kecil seperti itulah karakter seseorang dibentuk.

Dan dari karakter orang-orang seperti itulah masa depan sebuah bangsa dibangun.

Di akhir amanat, aku mengajak mereka untuk tidak menunggu sampai dewasa untuk melakukan perubahan.

“Kalau kita ingin Indonesia menjadi lebih baik, perubahan itu harus dimulai dari sekarang.”

Bukan nanti.

Bukan ketika sudah menjadi pejabat.

Bukan ketika sudah menjadi pemimpin.

Sekarang.

Mulai dari pengetahuan yang kita bangun.

Mulai dari keterampilan yang kita latih.

Dan terutama, mulai dari karakter yang kita bentuk.

Aku memandang anak-anak yang berdiri di hadapanku.

“Suatu hari nanti,” kataku, “kalianlah yang akan menjadi pemimpin negeri ini.”

Lapangan menjadi hening.

Aku tidak tahu apa yang akan tinggal dalam hati mereka setelah upacara selesai. Mungkin sebagian akan lupa. Mungkin sebagian hanya mengingat beberapa kalimat.

Tetapi aku berharap ada sesuatu yang menetap.

Bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang memiliki jabatan.

Bahwa menjadi orang pintar saja tidak cukup.

Bahwa keterampilan tanpa karakter dapat kehilangan arah.

Dan bahwa iman yang sungguh-sungguh seharusnya terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama.

Aku mengakhiri amanat.

Dari beberapa sudut lapangan terdengar suara kecil,

“Amin.”

Aku tersenyum.

Mungkin itulah jawaban yang paling sederhana.

Sebuah “amin” adalah harapan.

Harapan agar anak-anak ini bertumbuh bukan hanya menjadi orang-orang yang berhasil, tetapi menjadi manusia yang benar.

Manusia yang memiliki pengetahuan.

Manusia yang memiliki keterampilan.

Dan manusia yang memiliki karakter.

Pagi itu, kami memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Tetapi bagiku, peringatan itu bukan hanya tentang mengenang sebuah peristiwa dalam sejarah.

Pagi itu menjadi pengingat bahwa Pancasila harus terus hidup dalam diri generasi muda.

Dan bahwa tugas kami sebagai guru bukan hanya mengajarkan apa yang harus mereka ketahui.

Kami juga dipanggil untuk membantu mereka belajar menjadi siapa mereka kelak.

Sebab Indonesia yang lebih baik tidak dimulai dari suatu tempat yang jauh.

Ia dimulai dari ruang kelas.

Dari lapangan sekolah.

Dari sebuah kejujuran kecil.

Dari penghormatan kepada sesama.

Dari doa yang sungguh-sungguh.

Dan dari keberanian seorang anak untuk berkata dalam hatinya:

“Aku akan mulai berubah dari sekarang.”

Loading

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »
Scroll to Top