Home » Tuhan Melihat Aku, Menghargai Aku, dan Mengasihiku

Tuhan Melihat Aku, Menghargai Aku, dan Mengasihiku

Ada begitu banyak orang yang mengikuti Yesus, tetapi Dia tidak pernah kehilangan perhatian kepada satu pribadi yang sedang menderita.

Hari ini, setelah pulang dari gereja, ada satu hal yang terus tinggal di hati saya: betapa baiknya Tuhan kepada setiap orang, termasuk saya secara pribadi.

Dalam khotbah hari ini, pendeta mengajak kami melihat kembali kisah seorang laki-laki di Gerasa yang hidup dalam penderitaan karena roh jahat. Ia tinggal di pekuburan, terasing dari kehidupan masyarakat, dan tidak mampu membebaskan dirinya sendiri dari belenggu yang menguasainya. (Markus 5:1-20)

Bayangkan betapa berat hidupnya. Ia bukan hanya menderita, tetapi juga kehilangan kebebasan, hubungan dengan sesama, dan mungkin juga harapan untuk menjalani kehidupan yang normal.

Namun, Yesus datang menemuinya.

Di tengah banyaknya orang yang mengikuti Yesus, Tuhan tidak mengabaikan satu orang yang menderita itu. Yesus tidak memandangnya sebagai manusia yang sudah tidak berguna atau tidak layak ditolong. Ia melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan dan pemulihan.

Dan Yesus membebaskannya!

Saya membayangkan betapa luar biasanya perasaan laki-laki itu setelah mengalami pembebasan. Ia yang sebelumnya hidup dalam keterikatan kini memperoleh kesempatan untuk memulai kehidupan yang baru. Tidak mengherankan jika kemudian ia ingin mengikuti Yesus.

Tetapi Yesus memberinya tugas yang berbeda. Ia diminta pulang ke rumahnya dan menceritakan segala sesuatu yang telah diperbuat Allah baginya.

Seolah-olah Yesus berkata, “Pulanglah. Ceritakanlah bagaimana Tuhan telah menolongmu.”

Ternyata, pengalaman pembebasan itu bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Ada keluarga dan orang-orang di sekitarnya yang perlu mendengar kesaksian tentang kebaikan Tuhan.

Betapa indahnya! Orang yang dahulu mungkin dihindari dan dipandang sebelah mata kini memiliki cerita yang berharga untuk dibagikan. Kehidupannya menjadi kesaksian tentang kasih dan kuasa Tuhan.

Ketika seseorang merasa tidak layak

Khotbah hari ini juga mengingatkan saya pada kisah Daud dan Mefiboset.

Mefiboset adalah anak Yonatan, sahabat Daud. Ia mengalami kecacatan pada kedua kakinya sejak kecil. Setelah keluarganya mengalami tragedi, kehidupannya pun jauh dari kemegahan istana.

Namun, ketika Daud menjadi raja, ia mencari seseorang dari keluarga Saul yang masih hidup untuk menunjukkan kasih kepadanya demi Yonatan.

Daud kemudian memanggil Mefiboset dan memberinya tempat di meja raja. Ia bukan hanya menerima kebaikan berupa pemulihan hak milik keluarganya, tetapi juga mendapat kehormatan untuk makan di meja Daud seperti salah seorang anggota keluarga raja. (2 Samuel 9:1-13)

Saya membayangkan betapa sulitnya bagi Mefiboset untuk memahami perlakuan itu. Ia mungkin merasa dirinya tidak pantas menerima kehormatan sebesar itu. Ia bahkan menyebut dirinya seperti anjing mati ketika berbicara kepada Daud.

Namun, Daud tidak memperlakukannya berdasarkan penilaian rendah Mefiboset terhadap dirinya sendiri. Daud mengingat kasihnya kepada Yonatan dan menepati kesetiaannya.

Mefiboset mungkin melihat kekurangannya, tetapi Daud melihat seseorang yang patut menerima kasih.

Dari kisah ini saya belajar bahwa perasaan tidak layak yang ada dalam diri seseorang tidak selalu mencerminkan bagaimana orang lain memandangnya. Terlebih lagi, perasaan tidak layak kita tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan apakah kita boleh datang kepada Tuhan.

Aku pun adalah anak Tuhan

Lalu, saya merenungkan kehidupan saya sendiri.

Bukankah kita pun kadang-kadang merasa tidak layak?

Ada kalanya kita mengingat kesalahan masa lalu. Ada dosa yang membuat kita malu. Ada kebiasaan yang sulit dilepaskan, luka yang belum sembuh, rasa bersalah yang masih membebani, atau keterikatan yang membuat kita merasa tidak mampu berubah.

Mungkin kita pernah bertanya dalam hati, “Apakah Tuhan masih mau menerima saya? Apakah Tuhan masih mengasihi saya setelah semua yang saya lakukan?”

Hari ini saya kembali diingatkan bahwa Tuhan tidak berhenti peduli kepada kita hanya karena kita sedang bergumul.

Yesus datang kepada laki-laki di Gerasa yang hidup dalam keterikatan. Daud membuka meja kehormatannya bagi Mefiboset yang merasa dirinya tidak layak. Dan melalui kasih-Nya, Tuhan juga mengundang kita untuk datang kepada-Nya.

Kita tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan Tuhan. Kita tidak perlu menyembunyikan luka atau menyangkal pergumulan kita. Kita dapat datang kepada-Nya dengan hati yang jujur, memohon pengampunan, pertolongan, dan kekuatan untuk mengalami perubahan.

Identitas kita tidak berhenti pada kesalahan yang pernah kita lakukan. Bagi setiap orang yang menjadi milik Kristus, ada identitas baru sebagai anak Allah, yang menerima kasih dan anugerah-Nya.

Kasih Tuhan bukan alasan untuk terus tinggal dalam dosa, melainkan kekuatan untuk bangkit, bertobat, dan menjalani kehidupan yang semakin berkenan kepada-Nya.

Tuhan tidak hanya ingin membebaskan kita dari belenggu. Dia juga ingin memulihkan kehidupan kita dan memakai kisah kita untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Sebuah intermeso kecil selama ibadah

Ada satu kejadian kecil yang membuat saya tersenyum sekaligus merenung ketika mengingat ibadah hari ini.

Di depan saya duduk seorang remaja yang mengenakan pakaian tanpa lengan. Penampilan itu sempat menarik perhatian saya. Ketika khotbah berlangsung, ia juga beberapa kali melihat telepon genggamnya dan membuka WhatsApp, bahkan sampai khotbah hampir selesai.

Saya menyadari bahwa perhatian saya sempat teralihkan. Padahal, saya datang ke gereja untuk beribadah dan mendengarkan firman Tuhan.

Untungnya, saya dapat kembali memusatkan perhatian kepada pendeta yang menyampaikan pengajaran dengan penuh semangat. Slide yang dipenuhi ilustrasi tentang bagaimana Yesus menyembuhkan laki-laki di Gerasa juga membantu saya mengikuti kisah itu dengan lebih mendalam.

Sesudahnya, saya berpikir bahwa menjaga fokus selama ibadah ternyata juga menjadi bagian dari pergumulan kita. Begitu mudah perhatian kita tertarik pada apa yang terlihat di sekitar, sampai-sampai kita hampir melewatkan sesuatu yang sebenarnya sedang Tuhan ajarkan kepada kita.

Saya tidak tahu apa yang sedang dipikirkan atau dialami remaja itu. Karena itu, saya tidak ingin buru-buru menilai dirinya. Saya pun masih belajar menjaga hati dan pikiran agar tidak mudah teralihkan.

Mungkin inilah salah satu pelajaran yang bisa saya bawa pulang hari ini: sebagaimana Tuhan melihat setiap pribadi dengan penuh perhatian, saya pun perlu belajar melihat orang lain dengan kasih, sambil tetap bertanggung jawab menjaga hati saya sendiri.

Bukankah kita semua sedang belajar menjadi pribadi yang lebih baik?

Tuhan, terima kasih karena Engkau peduli kepadaku

Hari ini saya pulang dari gereja dengan hati yang bersyukur.

Saya diingatkan bahwa Tuhan tidak hanya mengasihi orang banyak secara umum. Dia juga peduli kepada setiap pribadi secara khusus.

Dia melihat orang yang menderita di Gerasa.

Dia mengingat kesetiaan-Nya kepada Yonatan dan menunjukkan kasih kepada Mefiboset.

Dan Dia juga melihat saya.

Tuhan mengetahui bagian-bagian hidup saya yang tidak diketahui orang lain. Dia mengetahui pergumulan yang mungkin sulit saya ceritakan, kelemahan yang masih perlu saya benahi, dan doa-doa yang hanya bisa saya ucapkan dalam keheningan.

Saya tidak harus menjadi sempurna terlebih dahulu untuk datang kepada-Nya. Saya datang karena saya membutuhkan kasih, pengampunan, pertolongan, dan pemulihan-Nya.

Hari ini saya ingin kembali percaya bahwa tidak ada bagian hidup saya yang terlalu sulit untuk saya bawa ke hadapan Tuhan. Saya ingin membiarkan Dia menolong saya melepaskan apa pun yang mengikat, memulihkan apa yang terluka, dan membentuk hati saya agar semakin serupa dengan kehendak-Nya.

Dan ketika saya telah mengalami kebaikan-Nya, saya pun ingin menceritakannya kepada orang lain.

Mungkin tidak semua orang akan mendengarkan. Mungkin kesaksian saya sederhana. Namun, seperti laki-laki di Gerasa yang diminta pulang dan menceritakan apa yang telah Allah perbuat baginya, saya pun dapat menjadi saksi melalui kehidupan sehari-hari, melalui perkataan, melalui pelayanan, dan melalui kasih yang saya bagikan.

Tuhan baik. Sungguh, Tuhan sangat baik.

Dia tidak melupakan kita. Dia tidak berhenti peduli ketika kita sedang jatuh. Dia tidak menutup pintu ketika kita datang dengan hati yang hancur.

Dia memanggil kita untuk datang, menerima kasih-Nya, mengalami pemulihan, dan melanjutkan hidup dengan pengharapan yang baru.

Hari ini, saya ingin menyimpan satu keyakinan ini dalam hati:

Saya dikasihi Tuhan. Saya berharga di hadapan-Nya. Saya tidak harus terus hidup dalam keterikatan masa lalu. Dengan pertolongan-Nya, saya dapat bangkit, bertumbuh, dan menjadi berkat.

Terima kasih, Tuhan Yesus, karena Engkau bukan hanya Tuhan bagi orang banyak. Engkau juga Tuhan yang peduli kepadaku secara pribadi.

Aku adalah milik-Mu, dan kasih-Mu tidak pernah berhenti memanggilku untuk hidup dalam pemulihan dan pengharapan.

Amin.

Loading

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »
Scroll to Top